عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ
أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي
وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ
جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ
عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا
هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ
اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ
فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ
بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ
فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي
مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً
فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ
فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا
حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ
4361.
Dari 'Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas telah mengatakan kepada kami
bahwa ada seorang tuna netra (buta) yang memiliki seorang wanita non
muslim yang menghina Nabi SAW, dan wanita itu benar-benar melakukannya.
Lelaki buta itu mencegahnya namun tidak digubris, ia juga telah berupaya
melarangnya namun wanita itu tidak juga peduli dengan larangan lelaki
itu. Suatu malam, wanita itu benar-benar telah melakukan penghinaan
kepada Nabi SAW, ia mencerca beliau, maka lelaki buta itu mengambil
sebuah besi tipis yang tajam (pisau) dan meletakkanya di atas perut
wanita itu dan ia pun menikamnya hingga wanita itu tewas. Ternyata
wanita itu tengah mengandung seorang bayi, maka darah pun berceceran
banyak. Pagi harinya, kasus ini diadukan kepada Rasulullah SAW, maka
kemudian beliau memerintahkan agar orang-orang dikumpulkan, dan beliau
pun bersabda, "Aku memohon kepada Allah dan aku bersumpah dengan
nama-Nya atas apa yang telah dilakukan oleh seorang lelaki (yang telah
melakukan sebuah tindakan) membelaku, (bahwa yang ia lakukan itu) adalah
benar, dan ia benar-benar telah melakukannya." Kemudian lelaki buta
itu berdiri dan berjalan gontai di antara orang-orang hingga ia
didudukkan di sisi Nabi SAW. Lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku
adalah sahabat wanita (suami) itu, ia telah berupaya untuk menghina dan
mencercamu lalu aku melarangnya dan ia tidak menggubris, aku juga telah
mencegahnya namun tidak juga ia gubris. Darinya aku dikaruniai dua orang
anak (yang berparas bagus) layaknya bintang yang tengah bersinar.
Wanita itu bagiku adalah sahabat setia, namun tadi malam ketika ia mulai
menghina dirimu, aku pun lantas mengambil sebilah besi tipis yang tajam
(pisau) dan aku letakkan di atas perutnya kemudian aku tikam ia hingga
mati!" Maka Rasulullah bersabda, "Saksikanlah (wahai para khalayak) bahwa darah wanita itu memang telah halal (tidak lagi terlindungi)." Shahih.
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ قَالَ كُنْتُ
عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَتَغَيَّظَ عَلَى رَجُلٍ
فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ فَقُلْتُ تَأْذَنُ لِي يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ فَأَذْهَبَتْ
كَلِمَتِي غَضَبَهُ فَقَامَ فَدَخَلَ فَأَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ مَا
الَّذِي قُلْتَ آنِفًا قُلْتُ ائْذَنْ لِي أَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ
أَكُنْتَ فَاعِلًا لَوْ أَمَرْتُكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا وَاللَّهِ مَا
كَانَتْ لِبَشَرٍ بَعْدَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَيْ لَمْ يَكُنْ لِأَبِي بَكْرٍ أَنْ
يَقْتُلَ رَجُلًا إِلَّا بِإِحْدَى الثَّلَاثِ الَّتِي قَالَهَا رَسُولُ
اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفْرٌ بَعْدَ إِيمَانٍ أَوْ
زِنًا بَعْدَ إِحْصَانٍ أَوْ قَتْلُ نَفْسٍ بِغَيْرَ نَفْسٍ وَكَانَ
لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْتُلَ
4363. Dari Abu Barzah, ia berkata,
"Ketika aku sedang berada bersama Abu Bakar RA yang tengah marah kepada
seorang lelaki, dan kian lama kemarahannya pun kian meningkat. Maka aku
katakan kepada Abu Bakar, 'Izinkan aku untuk memenggal lehernya, wahai
khalifah Rasulullah SAW.' Saat itu, kata-kataku telah habis sebab
kemarahanku. Kemudian Abu Bakar berdiri dan masuk ke rumahnya. Namun
kemudian dia mengirim seorang utusan dan berkata, 'Apa yang telah kamu
katakan tadi?' Aku menjawab, 'Izinkan aku untuk memenggal lehernya.' Abu
Bakar bertanya, 'Apakah kamu benar-benar akan melakukannya jika aku
memerintahmu (untuk membunuhnya)?' Aku menjawab, 'Ya.' Abu Bakar
menanggapi, 'Tidak, demi Allah! Tidak boleh seorang pun (yang melebihi
petuah) Muhammad SAW!" Ahmad bin Hambal mengatakan, "Maksudnya, Abu
Bakar tidak membenarkan dilakukannya pembunuhan terhadap seseorang
kecuali karena salah satu dari tiga sebab sebagaimana yang telah
digariskan Rasulullah SAW, 'Orang yang murtad (kafir setelah sebelumnya
beriman), orang yang berzina setelah menikah (muhshan), atau orang yang
membunuh." Itulah alasan yang dijadikan Nabi SAW untuk melakukan hukuman
bunuh. Shahih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar