Kamis, 05 Maret 2020

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 40. Memukul Wajah dalam Penerapan Hukuman Hudud



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَّقِ الْوَجْهَ

4493. Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beiiau bersabda, "Jika seseorang di antara kalian memukul (dalam hukuman hudud), maka hindarilah bagian wajah (muka)."

Shahih: Ash-Shahihah (862): Muslim dan perawi lainnya.

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 39. Ta'zir (Hukuman)

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لَا يُجْلَدُ فَوْقَ عَشْرِ جَلَدَاتٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

4491. Dari Abu Burdah, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "janganlah kalian mencambuk (seseorang) lebih dari sepuluh cambukan, kecuali bagi hukuman hudud yang telah menjadi batasan (ketentuan) Allah Azza wa Jalla." Shahih: Muttafaq 'Alaih.

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 38. Pelaksanaan Hukuman Hudud di Masjid


عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ أَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُسْتَقَادَ فِي الْمَسْجِدِ وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ الْأَشْعَارُ وَأَنْ تُقَامَ فِيهِ الْحُدُودُ

4490. Dari Hakim bin Hizam, bahwa ia berkata, "Rasulullah SAW melarang untuk melaksanakan hukuman qishash di dalam mesjid, dan membacakan syair-syair yang buruk, melaksanakan berbagai jenis hukuman hudud (di dalam mesjid)." Hasan: Al Misykah (734), Al Irwa' (2327).

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 37. Orang yang Berulang-Ulang Meminum Khamer


عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَرِبُوا الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُمْ ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا فَاجْلِدُوهُمْ ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا فَاجْلِدُوهُمْ ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا فَاقْتُلُوهُمْ

4482. Dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Jika mereka meminum khamer, maka cambuklah mereka. Jika mereka kembali meminumnya, maka cambuklah. Dan jika kemudian mereka meminumnya lagi, maka cambuklah. Namun jika mereka masih meminumnya, maka bunuhlah mereka'. " Hasan Shahih.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَكَرَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ إِنْ سَكَرَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ إِنْ سَكَرَ فَاجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ الرَّابِعَةَ فَاقْتُلُوهُ

4484. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Jika seseorang mabuk, maka cambuklah ia. Jika kemudian ia mabuk lagi, maka cambuklah ia. Dan jika mabuk lagi, maka cambuklah ia. Dan jika ia kembali mengulangi keempat kalinya, maka bunuhlah ia."

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ الرَّابِعَةَ فَاقْتُلُوهُ

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Jika seseorang meminum khamer, maka cambuklah. Dan jika ia mengulanginya untuk keempat kalinya, maka bunuhlah ia. "

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ شَرِبُوا الرَّابِعَةَ فَاقْتُلُوهُمْ

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, '...Jika ia meminumnya untuk keempat kalinya, maka bunuhlah ia. "

عَنْ مُعَاوِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ عَادَ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَاقْتُلُوهُ

Dari Mu'awiyah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Jika ia kembali mengulanginya untuk ketiga (atau keempat) kalinya, maka bunuhlah ia." Hasan Shahih.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَا أَدِي أَوْ مَا كُنْتُ لِأَدِيَ مَنْ أَقَمْتُ عَلَيْهِ حَدًّا إِلَّا شَارِبَ الْخَمْرِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسُنَّ فِيهِ شَيْئًا إِنَّمَا هُوَ شَيْءٌ قُلْنَاهُ نَحْنُ

4486. Dari Ali bin Abu Thalib RA, ia berkata, "Aku tidak menerapkan diyat (atau aku tidak pernah menerapkan diyat) kepada orang yang terjerat hukuman hudud kecuali bagi orang yang telah meminum khamer. Karena sesungguhnya Rasulullah SAW tidak mencontohkan hal itu sama sekali. Itu (kebijakan itu) hanya merupakan perkatan kami saja." Shahih: Muttafaq 'Alaih dan perawi lainnya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ وَهُوَ فِي الرِّحَالِ يَلْتَمِسُ رَحْلَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَقَالَ لِلنَّاسِ اضْرِبُوهُ فَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِالنِّعَالِ وَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِالْعَصَا وَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِالْمِيتَخَةِ قَالَ ابْنُ وَهْبٍ الْجَرِيدَةُ الرَّطْبَةُ ثُمَّ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُرَابًا مِنْ الْأَرْضِ فَرَمَى بِهِ فِي وَجْهِهِ

4487. Dari Abdurrahman bin Azhar, ia berkata, "Saat ini aku merasa seperti melihat Rasulullah SAW yang sedang berada di tengah pemukiman mencari tempat tinggal Khalid bin Walid. Saat itu, didatangkanlah kepada beliau seorang lelaki yang telah meminum khamer, maka beliau berkata kepada orang-orang, 'Pukulilah ia.' Maka ada diantara mereka yang memukulnya dengan sandal, ada juga yang memukul dengan kayu, atau juga ada yang memukul dengan pelepah kurma (Ibnu Wahb berkata maknanya: pelepah kurma). Kemudian Rasulullah SAW meraup pasir dari tanah dan melemparkan ke arah muka lelaki itu. Hasan Shahih: Al Misykah (3640).

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَزْهَرِ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَارِبٍ وَهُوَ بِحُنَيْنٍ فَحَثَى فِي وَجْهِهِ التُّرَابَ ثُمَّ أَمَرَ أَصْحَابَهُ فَضَرَبُوهُ بِنِعَالِهِمْ وَمَا كَانَ فِي أَيْدِيهِمْ حَتَّى قَالَ لَهُمْ ارْفَعُوا فَرَفَعُوا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَدَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْخَمْرِ أَرْبَعِينَ ثُمَّ جَلَدَ عُمَرُ أَرْبَعِينَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ جَلَدَ ثَمَانِينَ فِي آخِرِ خِلَافَتِهِ ثُمَّ جَلَدَ عُثْمَانُ الْحَدَّيْنِ كِلَيْهِمَا ثَمَانِينَ وَأَرْبَعِينَ ثُمَّ أَثْبَتَ مُعَاوِيَةُ الْحَدَّ ثَمَانِينَ

4488. Dari Abdurrahman bin Al Azhar, ia berkata, "Saat Nabi SAW tengah berada di Hunain, didatangkanlah kepada beliau seorang peminum khamer. Maka beliau melempari muka orang itu dengan pasir, dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya (untuk melempari orang itu dengan pasir). Kemudian para sahabat juga memukuli orang itu dengan sandal-sandal mereka, namun tidak memukuli langsung dengan tangan mereka. Hingga kemudian beliau memerintahkan, 'Cukup sudah (hentikan pukulan itu)!' Maka para sahabat pun menghentikannya. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar menghukum peminum khamer dengan empat puluh kali cambukan, Umar juga menghukumnya dengan empat puluh kali cambukan saat awal masa kekhalifahannya dan menghukum dengan delapan puluh cambukan di akhir masa kepemimpinannya. Kemudian Utsman menerapkan kedua hukuman ini (empat puluh dan delapan puluh), lalu Mu'awiyah menetapkan secara pasti hukuman cambuk bagi peminum khamer sebanyak delapan puluh kali." Shahih: Lihat hadits sebelumnya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْفَتْحِ وَأَنَا غُلَامٌ شَابٌّ يَتَخَلَّلُ النَّاسَ يَسْأَلُ عَنْ مَنْزِلِ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ فَأُتِيَ بِشَارِبٍ فَأَمَرَهُمْ فَضَرَبُوهُ بِمَا فِي أَيْدِيهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِالسَّوْطِ وَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِعَصًا وَمِنْهُمْ مَنْ ضَرَبَهُ بِنَعْلِهِ وَحَثَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التُّرَابَ فَلَمَّا كَانَ أَبُو بَكْرٍ أُتِيَ بِشَارِبٍ فَسَأَلَهُمْ عَنْ ضَرْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي ضَرَبَهُ فَحَزَرُوهُ أَرْبَعِينَ

فَضَرَبَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ كَتَبَ إِلَيْهِ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ إِنَّ النَّاسَ قَدْ انْهَمَكُوا فِي الشُّرْبِ وَتَحَاقَرُوا الْحَدَّ وَالْعُقُوبَةَ قَالَ هُمْ عِنْدَكَ فَسَلْهُمْ وَعِنْدَهُ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ فَسَأَلَهُمْ فَأَجْمَعُوا عَلَى أَنْ يَضْرِبَ ثَمَانِينَ قَالَ و قَالَ عَلِيٌّ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا شَرِبَ افْتَرَى فَأَرَى أَنْ يَجْعَلَهُ كَحَدِّ الْفِرْيَةِ

4489. Dari Abdurrahman bin Azhar, ia berkata, "Saat aku masih belia, pada pagi hari penaklukkan kota Makkah aku melihat Rasululah SAW sedang menanyai banyak orang tentang rumah Khalid bin Walid. Lalu tiba-tiba didatangkan seorang peminum khamer kepada beliau, maka beliau memerintahkan orang-orang dan mereka pun lalu memukuli peminum khamer itu dengan segala sesuatu yang ada di tangan mereka. Ada di antara mereka yang memukulnya dengan pecut (cemeti), ada yang memukulnya dengan kayu, ada yang menggunakan sandalnya, dan beliau melempari orang itu dengan pasir.

Abu Bakar juga pernah didatangkan kepadanya seorang peminum khamer, ia bertanya kepada para sahabatnya tentang cara Nabi SAW memberi hukuman pukulan bagi peminum khamer dan cara beliau memukulnya. Para sahabat mengingatkan Abu Bakar (bahwa Nabi SAW) melakukannya sebanyak empat puluh kali pukulan. Maka Abu Bakar pun menghukumnya dengan empat puluh kali pukulan.

Dan ketika masa pemerintahan Umar, Khalid bin Walid pernah menulis secarik surat kepadanya, "Orang-orang telah banyak yang meminum khamer dan meremehkan hudud serta hukumannya." Umar membalas, "Kasus mereka ini terserah keputusanmu, maka tanyakanlah kepada kaum Muhajirin Pertama (tentang hukuman yang telah disyariatkan Rasulullah)." Maka Khalid bertanya kepada mereka dan mereka pun sepakat untuk menghukum peminum khamer dengan delapan puluh kali pukulan.

Ali RA berkata, "Jika seseorang telah meminum khamer, maka ia akan berbohong, karena itu, aku berpendapat untuk menghukumnya dengan hukuman yang sepadan dengan hukuman bagi pelaku qazaf (menuduh orang lain berzina). " Hasan: Lihat hadits sebelumnya.

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 36. Pembahasan hukuman hudud dalam kasus Khamer



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ فَقَالَ اضْرِبُوهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ أَخْزَاكَ اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا هَكَذَا لَا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ

4477. Dari Abu Hurairah RA, bahwa telah didatangkan kepada Rasulullah SAW seorang lelaki yang meminum khamer. Beliau memerintahkan, "Pukullah ia!" Abu Hurairah berkata, "Di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, dengan sandalnya, atau dengan pakaiannya. Dan ketika beliau bergegas pergi, sebagian dari kaum berkata, 'Semoga Allah menghinakanmu!' Mendengar itu, maka Rasulullah bersabda, 'Janganlah kalian berkata demikian, Janganlah kalian membantu Syetan dalam memperdayanya (dengan ucapan tersebut)'. "Shahih: Al Misykah (3621): Bukhari.

بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ قَالَ فِيهِ بَعْدَ الضَّرْبِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ بَكِّتُوهُ فَأَقْبَلُوا عَلَيْهِ يَقُولُونَ مَا اتَّقَيْتَ اللَّهَ مَا خَشِيتَ اللَّهَ وَمَا اسْتَحْيَيْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ أَرْسَلُوهُ وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَلَكِنْ قُولُوا اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

4478. Dari Abu Hurairah RA... disebutkan hadits yang sama secara maknanya, ia berkata setelah kejadian hukuman "pemukulan" yang diperintahkan Rasulullah SAW, Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, 'Jelekkanlah ia!' Maka para sahabat pun menemuinya sambil berkata, 'Kamu sungguh telah menentang Allah!' Ada yang berkata, 'Kamu sungguh tidak takut kepada Allah!' Ada juga yang berkata, 'Kamu sungguh tidak punya malu kepada Rasulullah SAW!' Setelah itu orang yang meminum khamer itu digiring kepada Rasulullah. Dan di akhir ucapannya, beliau SAW bersabda, (Janganlah katakan demikian) melainkan katakanlah, 'Ya Allah ampunilah dia, 'ya Allah rahmatilah dia'. Shahih.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَدَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرْبَعِينَ فَلَمَّا وُلِّيَ عُمَرُ دَعَا النَّاسَ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّ النَّاسَ قَدْ دَنَوْا مِنْ الرِّيفِ وَقَالَ مُسَدَّدٌ مِنْ الْقُرَى وَالرِّيفِ فَمَا تَرَوْنَ فِي حَدِّ الْخَمْرِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَرَى أَنْ تَجْعَلَهُ كَأَخَفِّ الْحُدُودِ فَجَلَدَ فِيهِ ثَمَانِينَ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ ابْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَلَدَ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ أَرْبَعِينَ وَرَوَاهُ شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ضَرَبَ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ الْأَرْبَعِينَ

4479. Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW pernah menghukum cambuk peminum khamer dengan daun pelepah kurma dan sandal. Abu Bakar mendera pelakunya dengan mencambuk sebanyak empat puluh kali deraan. Dan ketika masa Umar, ia memanggil para sahabat Nabi SAW dan berpesan, "Kini, orang-orang (kaum muslimin) sudah banyak yang menghuni pedesaan (yang subur dan banyak tumbuh buah anggur di sana -sebagai bahan dasar khamer); Lalu bagaimana batasan hukum bagi khamer ini menurut kalian?" Abdurrahman bin 'Auf berkata kepada Umar, "Menurut kami, seharusnya engkau menjadikan hukuman bagi khamer (dan peminumnya) sebagai hukuman yang paling ringan, yakni dengan memberikan cambukan sebanyak delapan puluh kali." Dan dalam sebuah riwayat dari Qatadah, dari Nabi SAW, disebutkan bahwa Nabi SAW pernah mencambuk empat puluh kali dengan menggunakan daun pelepah kurma dan sandal. Dalam sebuah riwayat dari Anas, dari Nabi SAW, "Nabi SAW pernah mencambuk dengan menggunakan daun pelepah kurma sebanyak empat puluh kali." Shahih: Bukhari secara ringkas, Muslim.

حَدَّثَنِي حُضَيْنُ بْنُ الْمُنْذِرِ الرَّقَاشِيُّ هُوَ أَبُو سَاسَانَ قَالَ شَهِدْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ وَأُتِيَ بِالْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ فَشَهِدَ عَلَيْهِ حُمْرَانُ وَرَجُلٌ آخَرُ فَشَهِدَ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ رَآهُ شَرِبَهَا يَعْنِي الْخَمْرَ وَشَهِدَ الْآخَرُ أَنَّهُ رَآهُ يَتَقَيَّأُ فَقَالَ عُثْمَانُ إِنَّهُ لَمْ يَتَقَيَّأْ حَتَّى شَرِبَهَا فَقَالَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَقِمْ عَلَيْهِ الْحَدَّ فَقَالَ عَلِيٌّ لِلْحَسَنِ أَقِمْ عَلَيْهِ الْحَدَّ فَقَالَ الْحَسَنُ وَلِّ حَارَّهَا مَنْ تَوَلَّى قَارَّهَا فَقَالَ عَلِيٌّ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَقِمْ عَلَيْهِ الْحَدَّ قَالَ فَأَخَذَ السَّوْطَ فَجَلَدَهُ وَعَلِيٌّ يَعُدُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ قَالَ حَسْبُكَ جَلَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ أَحْسَبُهُ قَالَ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ وَعُمَرُ ثَمَانِينَ وَكُلٌّ سُنَّةٌ وَهَذَا أَحَبُّ إِلَيَّ

4480. Dari Khudhain bin Al Mundzir Ar-Raqasyi (Abu Sasan), ia berkata, "Aku menyaksikan Utsman bin Affan RA (yang didatangkan kepadanya Walid bin Uqbah) disaksikan oleh Humran dan beberapa sahabat lainnya, dan mereka berdua bersaksi bahwa Walid telah meminum Khamer. Saksi lain mengatakan bahwa Walid muntah. Dan Utsman berkata, "Ia (Walid) tidak akan muntah selain setelah ia meminum Khamer." Maka Ali bin Abu Thalib berkata, "Laksanakan segera hukuman hudud!" Lalu Ali berkata kepada Hasan, "Laksanakan segera hukuman hudud itu kepadanya!" Hasan berkata, "Kuasakanlah kekuasaan kepada orang yang layak menjalaninya." Maka kemudian Ali berkata kepada Abdullah bin Ja'far, "Laksanakanlah segera hukuman hudud itu kepadanya!" Maka Abdullah segera mengambil pecut dan mencambuk Walid. Ali juga turut menghitungnya. Dan ketika telah sampai kepada hitungan empat puluh dari deraan cambuk, Abdullah berkata, "Cukup (berhenti)! Nabi SAW telah menerapkan empat puluh cambukan, dan Abu Bakar empat puluh dan Umar delapan puluh. Semuanya itu adalah Sunnah. Dan ini (empat puluh) aku lebih suka mengambilnya." Shahih: Muslim.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ الدَّانَاجِ عَنْ حُضَيْنِ بْنِ الْمُنْذِرِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَلَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ وَأَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ وَكَمَّلَهَا عُمَرُ ثَمَانِينَ وَكُلٌّ سُنَّةٌ قَالَ أَبُو دَاوُد و قَالَ الْأَصْمَعِيُّ وَلِّ حَارَّهَا مَنْ تَوَلَّيْ قَارَّهَا وَلِّ شَدِيدَهَا مَنْ تَوَلَّى هَيِّنَهَا قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا كَانَ سَيِّدَ قَوْمِهِ حُضَيْنُ بْنُ الْمُنْذِرِ أَبُو سَاسَانَ

4481. Musaddad telah menyampaikan kepada kami, Yahya menyampaikan kepada kami dari Ibnu Abu 'Arubah dari Ad-Danaj, dari Khudhain bin Al Mundzir, dari Ali bin Abu Thalib RA, ia berkata, "Rasulullah dan Abu Bakar telah menghukum cambuk bagi kasus khamer sebanyak empat puluh cambukan, dan Umar kemudian melengkapinya menjadi delapan puluh cambukan. Semua itu adalah Sunnah." Abu Daud berkata, "Al Ashma'i berkata, 'Kuasakanlah kekuasaan kepada orang yang layak menjalaninya'." Abu Daud juga berkata, "Khudhain bin Al Mundzir adalah Abu Sasan adalah pembesar kaumnya Walid." Shahih.

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 35. Hukuman Bagi Orang yang Melakukan Qadzaf (Menuduh Orang Lain Telah Berzina)



عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا نَزَلَ عُذْرِي قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَذَكَرَ ذَاكَ وَتَلَا تَعْنِي الْقُرْآنَ فَلَمَّا نَزَلَ مِنْ الْمِنْبَرِ أَمَرَ بِالرَّجُلَيْنِ وَالْمَرْأَةِ فَضُرِبُوا حَدَّهُمْ

4474. Dari Aisyah RA, ia berkata, "Ketika Allah telah menurunkan udzurku (ayat-ayat Al Qur'an yang membebaskannya dari kasus fitnah terhadap dirinya), Nabi SAW berpidato di atas mimbar menyebutkan firman Allah. Dan ketika beliau turun dari mimbar, maka beliau segera memerintahkan dua orang lelaki dan seorang perempuan untuk diganjar dengan hukuman cambuk.Hasan.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ بِهَذَا الْحَدِيثِ لَمْ يَذْكُرْ عَائِشَةَ قَالَ فَأَمَرَ بِرَجُلَيْنِ وَامْرَأَةٍ مِمَّنْ تَكَلَّمَ بِالْفَاحِشَةِ حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَمِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ

4475. Dari Muhammad bin Ishaq... (dengan menyebutkan hadits yang sama tanpa menyebutkan kata "Aisyah") Ia berkata, "Kemudian Rasulullah memerintahkan dua orang lelaki dan seorang wanita, yaitu Hassan bin Tsabit dan Misthah bin Utsatsah. (Yang telah menebarkan isu fitnah tentang Aisyah untuk segera dicambuk)." Hasan dengan hadits sebelumnya.

Shahih Sunan Abu Daud Kitab HUDUD 34. Pelaksanaan Hukuman Hudud bagi Terpidana yang Sakit



أَخْبَرَهُ بَعْضُ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُ اشْتَكَى رَجُلٌ مِنْهُمْ حَتَّى أُضْنِيَ فَعَادَ جِلْدَةً عَلَى عَظْمٍ فَدَخَلَتْ عَلَيْهِ جَارِيَةٌ لِبَعْضِهِمْ فَهَشَّ لَهَا فَوَقَعَ عَلَيْهَا فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ رِجَالُ قَوْمِهِ يَعُودُونَهُ أَخْبَرَهُمْ بِذَلِكَ وَقَالَ اسْتَفْتُوا لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي قَدْ وَقَعْتُ عَلَى جَارِيَةٍ دَخَلَتْ عَلَيَّ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا مَا رَأَيْنَا بِأَحَدٍ مِنْ النَّاسِ مِنْ الضُّرِّ مِثْلَ الَّذِي هُوَ بِهِ لَوْ حَمَلْنَاهُ إِلَيْكَ لَتَفَسَّخَتْ عِظَامُهُ مَا هُوَ إِلَّا جِلْدٌ عَلَى عَظْمٍ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْخُذُوا لَهُ مِائَةَ شِمْرَاخٍ فَيَضْرِبُوهُ بِهَا ضَرْبَةً وَاحِدَةً

4472. Dari beberapa orang Sahabat Rasulullah SAW dari kalangan Anshar, bahwa seorang lelaki diantara mereka telah terserang penyakit hingga sangat parah dan tubuhnya hanya tinggal kulit dan tulang saja. Lalu datanglah seorang perempuan dari golongan mereka, kemudian lelaki itu berleha-leha dengannya hingga ia pun menyetubuhi perempuan itu. Ketika beberapa lelaki dari kaumnya datang menjenguknya, ia memberitahu mereka dengan kejadian itu (bahwa ia telah berzina), lantas ia berkata, "Mintalah fatwa kepada Rasulullah tentang diriku bahwa aku telah berzina dengan seorang perempuan yang mendatangiku." (Beberapa orang menemui Rasulullah) dan berkata kepada beliau, "Tidak ada seorang pun yang kami dapati lebih parah mengalami penyakit seperti yang dialami lelaki itu, dan jika kami memaksa membopongnya kemari (ke hadapan engkau), pastilah tulangnya akan hancur berantakan, sungguh ia kini tinggal kulit dan tulang saja!" Maka Rasulullah memerintahkan mereka untuk mengambil seratus biji adas (fennel) dan melempari lelaki itu dengan satu kali lemparan sekaligus." Shahih.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ فَجَرَتْ جَارِيَةٌ لِآلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَلِيُّ انْطَلِقْ فَأَقِمْ عَلَيْهَا الْحَدَّ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا بِهَا دَمٌ يَسِيلُ لَمْ يَنْقَطِعْ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ يَا عَلِيُّ أَفَرَغْتَ قُلْتُ أَتَيْتُهَا وَدَمُهَا يَسِيلُ فَقَالَ دَعْهَا حَتَّى يَنْقَطِعَ دَمُهَا ثُمَّ أَقِمْ عَلَيْهَا الْحَدَّ وَأَقِيمُوا الْحُدُودَ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَقَالَ فِيهِ قَالَ لَا تَضْرِبْهَا حَتَّى تَضَعَ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ

4473. Dari Ali bin Abu Thalib RA, ia berkata, "Seorang hamba perempuan dari kalangan keluarga Rasulullah telah berzina, maka beliau berseru, 'Wahai Ali, pergilah dan hukumlah perempuan itu dengan hudud!' Maka aku segera bergegas pergi, namun ternyata kulihat wanita itu tengah nifas (usai melahirkan) dan darahnya masih mengalir. Maka aku pun segera mendatangi Rasulullah dan beliau bertanya, 'Wahai Ali, apakah kamu sudah melaksanakannya?' Aku menjawab, 'Aku telah mendatanginya dan ternyata wanita itu tengah nifas (usai melahirkan) dan darahnya masih mengalir." Maka Rasulullah bersabda, Kalau begitu) biarkan perempuan itu hingga ia menyelesaikan masa nifasnya, setelah itu laksanakanlah hukuman hudud kepadanya. Dan (wahai manusia sekalian) berlakukanlah juga hukuman hudud kepada para hamba sahaya (orang yang terikat janji) kalian'." Dalam redaksi lain disebutkan, Rasulullah bersabda, "...janganlah kau hukum ia hingga selesai (dari nifasnya)." Shahih: Ash-Shahihah (2499): Muslim, tanpa redaksi, "aqiimul huduuda..." Al Irwa" (2325).